Posted by : Unknown Selasa, 29 Juli 2014


Sedikit cerita dan informasi tentang salah satu tokoh yang sangat saya kagumi. Muhammad Hatta. Pemuda Minang yang menuntut ilmu hingga ke luar negeri, memperjuangkan nasib bangsa nya di negeri asing, salah satu tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, sang Bapak Koperasi Indonesia. Pribadi yang sangat jujur, bersih lahir batin, dan belum dapat ditandingi oleh pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya hingga masa kini.


Muhammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Riwayat pendidikan beliau adalah sebagai berikut :
·         Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)
·         Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia (1921)
·         Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang (1919)
·         Europeesche Lagere School (ELS), Padang, 1916
·         Sekolah Dasar Melayu Fort de Kock, Minangkabau (1913-1916)


Sejak di Sekolah Tinggi Dagang, Hatta sudah aktif menulis. Tulisan-tulisannya dimuat di majalah Jong Sumatra. Saat itu ia juga menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond. Pemuda Hatta semakin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang bermukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Setiap Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air.

Pada tahun 1921, umur Hatta baru 19 tahun, ia tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam setelah memperoleh beasiswa dari Yayasan van Deventer. Ia pun bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai orang buangan (eksterniran) akibat kritik mereka lewat tulisan-tulisan tajam anti-pemerintah mereka di koran De Expres.

Di Indische Vereeniging, pergerakan Hatta tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.
Hatta mengawali karier pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.

Hatta adalah orang yang mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antar anggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif. Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, "Indonesia" secara resmi diakui oleh kongres. Nama "Indonesia" untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonialisme, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi "Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).

Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap di Den Haag dan dibawa ke penjara Casiusstraat oleh pemerintah Belanda beserta rekannya yang lain, yaitu: Abdul Madjid Djojoadiningrat, Ali Sastroamidjojo, dan Nazir St. Pamuntjak selama lima setengah bulan. Dalam sidang mahkamah pengadilan di Den Haag, 22 Maret 1928, Hatta mengatakan, PI menjalankan daya upaya dalam menguatkan  eenheidgedachte  bagi seluruh Bangsa Indonesia. Dengan kata lain, semangat persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia itu sudah dimulai oleh para mahasiswa di negeri seberang laut tersebut. Ia menegaskan kembali konflik kepentingan antara negara penjajah dan daerah jajahan. Karena Pidato pembelaan Hatta yang mengagumkan, akhirnya ia dibebaskan beserta ketiga rekannya dari segala tuduhan, dan pidato pembelaannya itu terkenal dengan: Indonesia Free, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", selanjutnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul "Indonesia Merdeka". Berikut kutipannya :

Sinar merah masa datang sudah mulai menyingsing sekarang. Kami Menghormati itu sebagai datangnya haru baru. Pemuda Indonesia harus menolong kami mengemudi ke jurusan yang benar. Tugasnya ialah mempercepat datangnya hari baru itu. Ia harus mengajar rakyat kami kegembiraan, bukan sengsara saja yang harus menjadi bagiannya. Mudah-mudahan rakyat Indonesia merasa merdeka dibawah Langitnya dan mudah-mudahan mereka merasa menjadi tuan sendiri dalam negara yang dikaruniakan tuhan kepada mereka.
Sekarang aku sedang siap menunggu keputusan tuan tuan tentang pergerakan kami. Akta Rene De Clerq, yang dipilih pemuda Indonesia sebagai petunjuk, hinggap di bibirku:
“Hanya satu tanah yang dapat disebut tanah airku, ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah Aku”

Dalam sidang tersebut Hatta juga dibela oleh beberapa tokoh Belanda yang simpatik terhadapnya. Kemudian antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Hatta menyelesaikan studinya di Belanda pada tahun 1932 lalu pulang di Indonesia. Di tanah air, ia aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui gerakan dan partai yang ia dirikan. Akhirnya pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Dari kehidupan Hatta sebagai mahasiswa kita bisa melihat bahwa : Munculnya seorang tokoh penting dan memiliki jiwa patriot yang tangguh dan memikirkan kehidupan orang banyak serta memajukan bangsa dan negara “bukan hanya muncul dalam satu malam” atau bukanlah tokoh kambuhan yang muncul begitu saja, dan bukanlah sosok yang mengambil kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan dan sosok pemerhati masyarakat. Tapi tokoh yang dapat kita jadikan contoh dan panutan dalam organisasi, partai, dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesunguhnya adalah seorang sosok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat, ia terlatih untuk mampu memahami keinginan dan cita-cita masyarakat, serta bertindak dengan menggunakan ilmu dan iman.

Muhammad Hatta telah menjalankan posisi, potensi dan perannya sebagai mahasiswa dengan baik. Ia menjadi ujung tombak perjuangan kemerdekaan Indonesia di luar negeri. Kemudian berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia saat kembali  ke tanah air. Semua hal itu tidaklah mudah. Hatta berjuang keras, terus membaca, menulis, berdialog, mengkritisi berbagai hal sembari berpegang teguh pada agama Allah. Berbagai resiko telah ia hadapi. Sekarang tinggal bagaimana kita mahasiswa Indonesia era reformasi meneladani apa yang telah beliau contohkan dalam hidupnya.

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater 



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © PSUGen 12 -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -