- Back to Home »
- Buku »
- Tulisan Calon Mendagri tentang Pemerintah dan Masyarakat
Posted by : Unknown
Selasa, 05 Agustus 2014
Assalamualaikum wr wb. Halo semuanya, kali ini saya akan menceritakan tentang salah satu buku favorit saya dan salah satu buku favorit saya. Kisahnya akan sedikit dramatis, heroik, dan hectic. Tapi jangan khawatir, karena Anda akan dapat banyak ilmu dari hal-hal tersebut.
Judul buku : Pemerintahan Tak Bertepi
Pengarang :
Gamawan Fauzi
Penerbit :
Yayasan Citra Budaya Indonesia
Tahun :
2005
Tebal :
xvi + 170 hal + cover
Gamawan Fauzi, sang Menteri Dalam
Negeri (Mendagri) pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, mantan Gubernur Sumatera
Barat, mantan Bupati Solok selama dua periode, memiliki catatan yang sangat
baik dan bersih dalam karir politiknya. Bahkan meraih penghargaan Bung Hatta
Anti-Corruption Award pada tahun 2004.
Berbekal pengalamannya selama
menjadi Bupati Solok, ia menulis buku ini. Mencurahkan segala ide, pikiran,
kritik, dan kebingungannya tentang hubungan pemerintah dan masyarakat saat ini.
Berbagai hal ia usik, mulai dari illegal loging yang tidak kunjung selesai, lahan
tidur yang semakin meluas, birokrasi panjang yang menyebalkan, bantuan pada
masyarakat yang memanjakan, hingga otonomi daerah yang terkesan setengah hati.
Banyak gagasan-gagasan baru yang
Gamawan kemukakan tentang bagaimana mengelola hubungan pemerintah dan
masyarakat agar lebih baik. Contohnya adalah tentang birokrasi yang semakin
panjang. Masyarakat kesulitan mengurus berbagai dokumen penting karena prosedur
yang rumit. Gamawan mengusulkan ide Pelayanan Satu Pintu (Yantupin) dan
menerapkannya di Kabupaten Solok. Kebijakan Gamawan ini ditiru oleh pemerintah
pusat. Lalu banyak lagi terobosan-terobosan yang dilakukan Gamawan.
Pemerintahan tak bertepi adalah
salah rubrik dalam buku ini. Menjelaskan bahwa pemerintahan saat ini terlalu banyak
memerintah. Mengurusi banyak hal, mulai dari yang sepele seperti kegiatan
Maulid Nabi di suatu desa, hingga berbagai masalah yang kompleks. Ini
betul-betul tidak sesuai dengan prinsip pemerintahan yang baik, yaitu
pemerintah yang sedikit memerintah.
Yang menarik dari buku ini adalah
tentang sebuah rubrik yang berjudul ‘Seandainya Saya Mendagri’. Tulisan tersebut
menjelaskan tentang langkah-langkah strategis yang akan dilakukan Gamawan jika
seandainya ia seorang Menteri Dalam Negeri. Ingat, buku ini ditulis tahun 2005
dan yang mengejutkannya, pada tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengangkat Gamawan Fauzi menjadi Mendagri. Wow ! Mungkin saja Pak SBY membaca
buku Gamawan ini dan setuju dengan ide-ide Gamawan. Who knows ?
Buku ini sarat dengan wawasan
kebangsaan, memberi ide pencerahan untuk memperbaiki bangsa kita.
Memperlihatkan kepada kita, bagaimana cara seorang Gamawan Fauzi memandang
suatu masalah dan pola pikir yang ia gunakan untuk mengatasi masalah tersebut.
Cocok sekali dibaca oleh berbagai kalangan, terutama oleh siswa, mahasiswa,
politisi, dan pejabat pemerintahan. (EK)
